Tawuran Pelajar dan Mahasiswa
   A.    Pengertian Tawuran

1.      Tawuran  : Perkelahian beramai-ramai; perkelahian massal: tiba-tiba terjadi - antara kedua kubu yang berselisih itu;
2.      Tawuran atau Tubir adalah perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat..
3.      “Tawuran” dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar.
Sehingga dapat disimpulkan tawuran pelajar yaitu perkelahian antar banyak orang yang tugas pelakunya adalah manusia yang sedang belajar.

   B.     Penyebab Tawuran
Ada dua faktor penyebab terjadinya tawuran antar pelajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1.      Faktor internal di sini adalah faktor yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru oleh remaja dalam menanggapi miliu di sekitarnya dan semua pengaruh dari luar. Perilaku merupakan reaksi ketidakmampuan dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan sekitar, dan merasa dirinya hebat.
2.      Faktor Eksternal
Ø   Faktor Keluarga
a.       Baik buruknya rumah tangga atau berantakan dan tidaknya sebuah rumah tangga.
b.      Perlindungan lebih yang diberikan orang tua.
c.       Penolakan orang tua, ada pasangan suami istri yang tidak pernah bisa memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu.
d.       pengaruh buruk dari orang tua, tingkah laku kriminal dan tindakan asusila.
Ø  Faktor lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan bisa berupa bangunan sekolah yang tidak memenuhi persyaratan, tanpa halaman bermain yang cukup luas, tanpa ruangan olah raga, minimnya fasilitas ruang belajar, jumlah murid di dalam kelas yang terlalu banyak dan padat, ventilasi dan sanitasi yang buruk dan lain sebagainya.
Ø  Faktor Miliu/Lingkungan
Lingkungan sekitar yang tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan remaja.
Ø  Salah seorang pengamat masalah hukum dan sosial menyebutkan degradasi etika dan moralitas dalam kehidupan sosial menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi makin sering terjadi tawuran pelajar.
Menurut pengamat tersebut terdapat beberapa poin yang mengakibatkan degradasi etika dan moralitas ini:
a.       Perubahan nilai-nilai dalam masyarakat begitu pesat akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada benturan pada nilai-nilai di masyarakat, nilai- nilai lama mulai memudar sedangkan nilai-nilai baru sedang mencari bentuknya atau jati diri.
b.      Kaum remaja dalam mencari identitas diri mudah sekali terpengaruh. Pengaruh ini macam-macam bentuknya. Seperti televisi yang sering menayangkan adegan kekerasan, bahkan berita tawuran tanpa sensor yang menunjukkan kebrutalan bisa menjadi contoh yang tidak baik. Lingkungan yang kurang memadai juga bisa membawa dampak yang signifikan, seperti gaya anak muda sekarang yang senang membentuk komunitas sediri seperti gank-gank-an, biar bisa disebut anak gaul, macho, dsb.
c.       Kurikulum pendidikan cara belajar siswa aktif yang membuat banyak remaja tidak mampu mengikutinya, sehingga menjadi frustasi dan mencari sensasi diri.
d.      Nilai-nilai kebenaran dan hakikat hidup terkait budi pekerti tidak lagi diajarkan secara aktif dan efektif. Padahal ini penting sekali, nilai-nilai budi pekerti ditanmakan sejak dini. Nilai-nilai ini hanya sebatas ilmu dan masih belum bisa diterapkan dalam perilaku.
e.       Hilangnya panutan dan idola bagi remaja. Maraknya dunia hiburan saat ini juga membawa pengaruh. Remaja lebih senang mengidolakan artis, atau band favoritnya daripada guru, atau orang tua.

   C.    Dampak Tawuran
1.      Akibat Bagi Pelajar
Perkelahian dikalangan pelajar dan mahasiswa merupakan suatu tingkah laku yang tidak pantas bagi seorang pelajar maupun mahasiswa dan tingkah laku itu merupakan penyimpangan dari tingkah laku seorang pelajar apalagi seorang mahasiswa yang harusnya lebih dewasa dan telah mengetahui dampak apa saja jika melakuka tawuran. Perkelahian yang dilakukan secara massal dari kedua belah pihak yang berlainan sekolah maupun universitas dan dalam perkelahian itu tidak hanya menggunakan tangan kosong tetapi juga menggunakan senjata tajam dan benda keras.
Melihat dari benda atau alat yang digunakan dalam perkelahian itu maka sudah dapat diduga akibat yang ditimbulkan dari perkelahian itu antara lain luka yang dialami salah satu pelajar yang ikut serta dalam perkelahian antar pelajar tersebut. Selain itu tawuran akhir-akhir ini juga menyebabkan korban jiwa
Sehubungan dengan akibat yang ditimbulkan dari perkelahian antar pelajar menurut pasal 351 KUHP :
a.       Penganiayaan dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah
b.      Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun
c.       Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya orang, maka yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun
d.       Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja
e.       Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dapat dipidana ”
2.      Akibat bagi keluarga
Dengan turut serta anak-anak terlibat langsung dalam perkelahian antar pelajar yang kemudian ternyata mendapatkan tindakan dari pihak kepolisian, pimpinan sekolah atau dari masyarakat sekitarnya, maka akibatnya akan menimbulkan problema bagi keluarga atau orang tuanya berupa : teguran dari pihak pimpinan sekolah dan warga masyarakat sekitarnya serta peringatan dari pihak kepolisian.



3.      Akibat bagi sekolah
Jika perkelahian antar pelajar itu ternyata akan membawa nama sekolah maupun universitas bahkan terjadi di lingkungan sekolah maka akan membawa dampak negatif bagi sekolah tersebut berupa :
a.       Kerugian materiil yang mungkin timbul seperti rusaknya gedung sekolah atau universitas maupun peralatan lain akibat dari pelemparan benda dari pihak lain.
b.      Kerugian yang menyangkut nama baik sekolah dalam masyarakat maupun aparat keamanan, yakni timbulnya kesan sekolah dan universitas urakan dan menjadi pengawasan dari pihak yang berwajib. 
4.      Akibat bagi masyarakat
Akibat yang langsung dialami oleh masyarakat dari perkelahian antar pelajar itu adalah terganggunya ketertiban dan keamanan di lingkungan sekitarnya. Kemudian apabila frekuensi kenakalan remaja dan perkelahian antar pelajar dan mahasiswa demikian tinggi maka tidak mustahil kondisi dan situasi lingkungan masyarakat yang rawan yang memungkinkan timbulnya bibit baru remaja yang nakal.
Setelah diketahui akibat yang ditimbulkan dari perkelahian antar pelajar dan mahasiswa maka perlu segera ditanggulangi perkelahian itu oleh pihak sekolah, masyarakat maupun aparat keamanan sebelum menimbulkan akibat yang lebih parah lagi.

   D.    Cara Mencegah Terjadinya Tawuran
1.      Dengan memandang masa remaja merupakan periode storm and drang period (topan dan badai) dimana gejala emosi dan tekanan jiwa, sehingga perilaku mereka mudah menyimpang. Maka pelajar sendiri perlu mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, Seperti Mengikuti kegiatan kursus, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, dll.
2.      Lingkungan keluarga juga dapat melakukan pencegahan terjadinya tawuran, dengan cara:
a.       Mengasuh anak dengan baik.
Ø  Penuh kasih sayang
Ø  Penanaman displin yang baik
Ø  Ajarkan membedakan yang baik dan buruk
Ø  Mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
Ø  Mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi  tertentu.
Ø  Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat: Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
b.      Meluangkan waktu untuk kebersamaan
Orang tua menjadi contoh yang baik dengan tidak menunjukan perilaku agresif, seperti: memukul, menghina dan mencemooh.
c.        Memperkuat kehidupan beragama
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
d.      Melakukan pembatasan dalam menonton adegan film yang terdapat tindakan kekerasannya dan melakukan pemilahan permainan video game yang cocok dengan usianya.
e.        Orang tua menciptakan suasana demokratis dalam keluarga, sehingga anak memiliki keterampilan social yang baik. Karena kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan ia sulit meyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sehingga timbul rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku normatif (misalnya, asosial ataupun anti-sosial).Bahkan lebih ekstrem biasa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.
3.      Sekolah juga memiliki peran dalam mengatasi pencegahan tawuran, diantaranya :
a.       Menyelenggarakan kurikulum Pendidikan yang baik adalah yang bias
Mengembangkan secara seimbang tiga potensi, yaitu berpikir, berestetika, dan berkeyakinan kepada Tuhan.
b.      Pendirian suatu sekolah baru perlu dipersyaratkan adanya ruang untuk kegiatan olahraga, karena tempat tersebut perlu untuk penyaluran agresivitas remaja.
c.        Sekolah yang siswanya terlibat tawuran perlu menjalin komunikasi dan koordinasi yang terpadu untuk bersama-sama mengembangkan pola penanggulangan dan penanganan kasus. Ada baiknya diadakan pertandingan atau acara kesenian bersama di antara sekolah-sekolah yang secara “tradisional bermusuhan” itu.
4.      LSM dan Aparat Kepolisian
LSM disini dapat melakukan kegiatan penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai dampak dan upaya yang perlu dilakukan agar dapat menanggulangi tawuran. Aparat kepolisian juga memiliki andil dalam menngulangi tawuran dengan cara menempatkan petugas di daerah rawan dan melakukan razia terhadap siswa yang membawa senjata tajam.

   E.     Contoh Tawuran yang Terjadi Belakangan Ini
1.      STM Boedi Oetomo dengan SMK 5 Jakarta
Tawuran antar sekolah STM Boedi Oetomo dengan SMK 5 Jakarta ini terjadi di Jalan KH Hasyim Ashari, Gambir, Jakarta Pusat, pada Kamis, 24 November 2011. Tawuran ini menyebabkan satu orang pelajar STM Boedi Oetomo tewas karena terkena bacokan . Awalnya korban dihadang puluhan pelajar di fly over dekat ITC Roxy Mas ketika menumpang Kopaja rute Senen-Kalideres. Korban sempat kabur, tetapi terus dikejar. Korban akhirnya terjatuh dan pelaku langsung menclurit tepat di bagian dada. Lalu, para pelaku melarikan diri. Hingga saat ini, polisi belum menemukan  pelaku utama pembacokan dan motif pembacokan tersebut.
2.      Mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar
Tawuran antara mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar, kembali terjadi pada Selasa (15/11/2011) siang. Ribuan mahasiswa dari dua fakultas kembali saling serang di sekitar kampus Teknik. Aksi tawuran mahasiswa Unhas merupakan buntut dari perselisihan antara senior mahasiswa Teknik yang mengejek mahasiswa baru (Maba) Fakultas Kehutanan. Tidak terima Mabanya diledek, mahasiswa Kehutanan menyerang mahasiswa Teknik.
Sedikitnya sepuluh sepeda motor dibakar, selain menimbulkan kerugian material, sejumlah mahasiswa juga harus mendapatkan perawatan dalam tawuran yang sudah terjadi sebanyak dua kali ini. akibatnya ada mahasiswa mengalami luka pada bagian kepala belakang hingga tak sadarkan diri, terluka pada tangan akibat tebasan parang, kepala bocor dan ada yang terkena busur pada bagian perut.

3.      SMKN 1 Bangkalan dan SMAN 3 Bangkalan.
Tawuran ini terjadi di lapangan pacuan kuda Kemayoran, Kota Bangkalan pada hari Minggu, 27 November 2011, yang dipicu oleh saling ejek melalui SMS siswa SMAN 3 Bangkalan dengan pelajar SMKN 1 Bangkalan. Nah dari saling ejek itulah, keduanya saling tantang.

DAFTAR PUSTAKA

http://metropolitan.inilah.com

0 komentar: